Menurutsaya kalimat "Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan" lebih banyak mengarah kepada kata-kata penghiburan semata ketika kita salah melangkah. Ketika manusia mulai merencanakan apa yang diinginkan dalam hidupnya dan itu tidak tercapai, lalu kita katakan Tuhan belum mengizinkan. Padahal apa yang menjadi tujuannya adalah hal yang baik Belumlagi dibutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar untuk melakukan hal yang demikian. Dan sampai sekarang, belum ada lagi yang berencana kebulan. Menandakan bahwa kita sebagai manusia adalah lemah, dan yang memiliki kekuatan hanyalah Allah swt. 3. Dalam konteks ilmu pengetahuan, bisa diartikan ilmu kitalah yang melintasi langit dan bumi. Diantara yang menfasirkanya dengan kehati-hatian, artinya: "Buatlah kapalnya, Wahai Nuh dan Kami akan melindungi, membantu, dan mengajari kamu.". Tidak ada kontradiksi antara kedua tafsir tersebut. Dan Allah berfirman, وَلِتُصۡنَعَ عَلٰى عَيۡنِىۡ Ath-Thabari menyebutkan dua pendapat dalam tafsirnya, Pertama: Semoga AllahMaha Mengetahui isi hati". (Ali-Imran [30: 154) Jadi, sedapat mungkin dalam setiap masalah, sebaiknya kita selalu berbaiksangka kepada Allah SWT. Manusia memang boleh berharap dan berencana tentang apa saja, tetapi Allah jugalah yang menentukan hasil akhirnya. Ini berlaku bagi siapa saja. AlQur‟an menantang manusia untuk menggunakanakal pikirannya seoptimal mungkin agar manusia bertindak untuk melakukan nadzar, sepeerti dalam firman Allah SWT. di dalam Q. Yunus ayat 101 yang artinya,

kata kata manusia hanya bisa berencana allah swt yang menentukannya